Friday, September 21, 2007

What happen If Titanic sank at this time???


What happen If Titanic sank at this time???
Reaction from different countries:



U.S.A:
"A ship coming to Freedom was attacked by terrorists.
We will not sit quiet and we will teach them a lesson.
Bin Laden you can run but you cannot hide we will find
you and destroy your Al-Qaeda network."
(President Bush........ whoelse?)

U.K:
"I have spoken to the President of United States and
we have both agreed that the sinking of Titanic is
significant prove that Saddam Hussein is clearly
behind this attack, Iraq is imposing a threat to the
world and this has to be dealt with."
(Prime Minister Blair)

Iraq:
"LOL!!!" (President Saddam Hussain)

Israel:
"These Hamas and other terrorist network is enough
evidence to say that sinking of Titanic is not an
accident but it was their suicide bombers who have
commited such a crime.We will now impose curfew on the
Palestinians, detain them, exile them, kill them,
starve them, destroy their homes and refugee camps."
(Ariel Sharon....)

Canada:
"Titanic who?" (Canadian Prime Minister)

India:
"Is mein Pakistan ka haath hai. We have received
passports of Pakistani extremists from the Titanic
debris. Pakistanis will have to pay for such
horrendous act of terrorism. We are now deploying more
soldiers to the border."
(Prime Minister Vajpayee)

Pakistan:
"Sind may Double Sawari per ghair muayyana muddat ke
liye pabandi"
(President Musharraf)

UN:
"Shit happens right??"
(Sec.Gen. Kofi Annan)

Survivors:
"Uhh. Helllooo. Is anyone listening... it was an iceberg..helllooooo o."

Wednesday, August 15, 2007

There is a lot of thing to think about but nothing to worry about..


Judul di atas di ambil dari pernyataan seorang pria, suami dan ayah dari beberapa orang anak, yang tengah bertarung melawan kanker yang menggerogoti dirinya.
Kata-kata tesebut selalu diucapkannya sepanjang hidup, ketika ia sendiri nyaris putus asa dengan apa yang dialaminya.
Kata-kata tersebut juga selalu diucapkannya kepada istri tercinta, ketika ia begitu tertekan dengan beban hidup yang ditanggungnya sendiri untuk membiayai keluarga sepanjang masa perawatan suaminya.
Kata-kata tersebut diucapkan kepada anak-anaknya yang begitu takut kehilangan dirinya.
Bahkan, kata-kata tersebut juga diucapkan kepada sanak saudara, kerabat dan sahabat yang mengunjunginya di rumah sakit, ketika mereka berlinang air mata melihat penderitaan dirinya.
Hingga waktu itu tiba, ia pergi untuk selama-lamanya..

****

Kata-kata ini menggema,
Hingga ke telinga sebuah produser reality show "Bedah Rumah" di AS.
Bukan sekadar mereka ingin memberikan sebuah rumah yang layak untuk keluarga ini.
Namun lebih dari itu, juga untuk dedikasi keluarga ini untuk selalu menyampaikan pesan almarhum kepada siapapun, menguatkan mereka yang lemah dan memberikan inspirasi bagi mereka yang putus asa.
Kalimat ini menjadi mantra peneguh hati, obat penawar dan bahkan kalimat iman.
Tayangan reality show tersebut bukan saja menunjukkan nuansa kehidupan sebuah keluarga bersahaja di tengah kehidupan masyarakat AS, namun juga menyebarkan mantra ini hingga ribuan mil dari kehidupan keluarga ini.

****

There is a lot of thing to think about but nothing to worry about.. Aku ingin sejenak merenungkannya...

Monday, August 13, 2007

Farewel from Kontras

Dearest Colleagues and Friends:

After 8 amazing intense years at KONTRAS, I am leaving. 3 of August 2007 will be my last day to work as the member of Kontras working committee member.

Making this decision was extremely difficult for me, since the fighting and struggle on achieving human rights and Kontras support on it still needed. But the idea for me is not to leave the value and spirit; I am still there with Kontras and other human rights defenders around the world.

I have been elected as the Executive Director of The Institute for Defense, Security and Peace Studies (IDPSPS). This is a new organization established in the beginning of 2006 to support research, advocacy and campaign on rights based security sectors issues, by some human rights activist, journalist and academician from different groups to strengthen security sector reform and democratization in Indonesia.

In IDSPS, I replaced my colleague Sri Yunanto, whose has been selected for Fulbright Scholarship grantee to pursue PhD at USA, exactly in Western Michigan University.

In the other hand, I already finished my work as the Secretary General of the Federation of Kontras for period 2004-2007. The 2nd Congress of the Federation in 23-25 July 2007 at Banda Aceh elected Oslan Purba from Kontras North Sumatera as the New Secretary General for period 2007-2010.

Most of all, on a personal level, I will really miss my colleagues and partners in the field with whom I have had the honour to work during my activity in Kontras.

Please keep in mind that while I will no longer work with you in an official KONTRAS capacity, I will look for ways to continue collaborating on different work personally or trough IDSPS. I cannot thank you enough for the privilege of working with and learning from you.

Please keep in touch and I’m sure that we will meet again.




Sunday, July 22, 2007

The LOGIC works in the world


This is nice story about how you can plan your son future, even with little bit tactic.. (What do you think Haikal???)


Father: I want you to marry a girl of my choice
Son: "I will choose my own bride!" Father: "But the girl is Bill Gate's daughter." Son: "Well, in that case...ok"


Next Father approaches Bill Gates. Father: "I have a husband for your daughter." Bill Gates: "But my daughter is too young to marry!" Father: "But this young man is a vice-president of the World Bank." Bill Gates: "Ah, in that case...ok"

Finally Father goes to see the president of the World Bank. Father: "I have a young man to be recommended as a vice-president." President: "But I already have more vice- presidents than I need!" Father: "But this young man is Bill Gate's son-in-law." President: "Ah, in that case...ok"

Moral : Even If you have nothing, You can get Anything ,

If your attitude is positive.

Wednesday, May 02, 2007

Diam......???

Dulu orang tua kita kerap mengajarkan bahwa diam adalah emas. Dengan tanpa penjelasan apapun. Setelah aku mulai 'mengaji', aku juga menemukan pengajaran yang sama, namun dengan sedikit penjelasan, "daripada berkata-kata buruk dan berbuat dosa." Waktu Kuliah, ada ajaran yang makin buruk yang aku terima tentang pengertian diam itu emas. Seorang dosen dengan 'arif' berkata, "Kamu diam aja deh, gak usah ikut macam-macam, gak usah protes-protes, belajar tok. Yang penting lulus deh." dan bener, karena terlalu macam-macam akhirnya aku gak bisa lulus dan terpaksa pindah kuliah, he.he..

Terus terang, aku merasa pesan ini lebih sering menggangu. Simplenya, kenapa kok orang ngomong dilarang?

Sejarah menunjukkan, betapa perubahan takkan pernah terjadi oleh yang diam. karena mayoritas diam (silence majority), kita menikmati masa 350 di bawah kolonialisme Belanda. Udah gitu gak kapok juga, kita selalu diam ketika negara selalu menzalimi kita.

Sejarah kekerasan yang berlanjut juga berawal dari diam. Hampir dipastikan seluruh penindasan yang bertahan bukan karena ketidakberdayaan semata-mata, tetapi lagi-lagi karena mayoritas yang diam. Fatalnya, semua berharap someday something happen, the dream come true, but without any act. Its like waiting the great hero come to keep us from the evil, yang membebaskan, kayak ratu adil dan semacamnya. bayangkan mayoritas justru menunggu sekumpulan kecil yang kuat. tidak pernah terpikir, bahwa kebakaran besar selalu bermula dari api yang kecil.

Tapi kita sudahi dulu perdebatan tentang diam, karena pada tingkat tertentu diam memang penting. Pengalaman menarik tentang diam justru muncul di kereta api jabotabek.
Dulu selalu ada ledekan, orang akan diam kalo berurusan dengan polisi dan tentara. Pernah seorang bapak yang kakinya terinjak oleh seorang laki-laki berbadan tegap dan berrambut cepak. Dengan meringis menahan sakit, bapak itu berkata,
"Mas, mohon maaf sebelumnya kalo saya lancang, boleh gak saya bertanya?"
Dengan penuh keheranan 'si Mas' menjawab, "Boleh Pak."
"Baik Mas," lanjut Bapak itu, "Apa Mas Tentara?" "Bukan Pak" jawab 'si Mas'. "Mas Punya keluarga yang jadi tentara?" "Enggak Pak." Jawab 'si Mas' heran. "Oh, Kalo gitu Mas Polisi yah?" "Bukan." "Punya keluarga yang jadi polisi gak Mas?" "Enggak." jawab 'si Mas' makin heran. Tiba-tiba bapak itu berteriak, "Hei Monyong! gak sopan ama orang tua, angkat kaki lo yang udah setengah jam nginjek kaki gue!" Nah loh! Tadi diam karena emas atau karena takut pak??

Tapi ini cerita lain. Yang namanya kereta Jabotabek yang berangkat dari Bogor pagi hari pasti penuhnya ampun-ampunan, dah kayak ikan sarden dalam kaleng. Suatu pagi, di tengah gerbong yang tingkat kepadatan penumpangnya melebih penonton konser Slank, seorang anak muda yang ganteng dan bersih berteriak, "Woi, ngepet lo, jangan dorong-dorong gue dong!" gak dinyana dan diduga, penumpang satu gerbong langsung teriak mengomentari anak muda itu, "Woi siapa tuh teriak ngepet di kereta, kalo mo lapang naik taksi!" "Begitu tuh anak pejabat yang gak biasa susah kalo naik kereta!" "Belagu banget sih tuh bocah, pengen gue tonjok!" termasuk seorang ibu di sebelah ku berkomentar, "Mas kalo naik kereta pagi jangan ngadep ke Timur, panas!" Nah kena lo disindir..

Akhirnya, soal diam memang butuh tempat yang proporsional dan waktu yang tepat. gak semua harus diomongkan, tetapi juga gak semua boleh didiamkan. Ada satu petuah dari guru-guru Shaolin, "Orang yang 'tersesat' itu seperti orang yang terkurung dalam ruang gelap dalam waktu lama. Sementara kebenaran itu seperti cahaya yang sangat terang benderang. Karenanya, jangan memaksa untuk membuka ruang langsung lebar-lebar, agar cahaya yang datang tidak membutakannya. Ia yang awalnya buta dengan kesesatan, mungkin akan lebih buta dengan kebenaran yang dipaksakan."

Tuesday, May 01, 2007

Worldwide Survey word by word..

I've got this interrested story by email..


A worldwide survey was conducted by the UN.

The only question asked was:

"Would you please give your honest opinion about solutions to the shortage of food in rest of the world".

The survey was a huge failure..... ... Do you know WHY?

* In Africa they didn't know what 'food' meant.


* In India they didn't know what 'honest' meant.


* In Europe they didn't know what 'shortage' meant.


* In China they didn't know what 'opinion' meant.


* In the Middle East they didn't know what 'solution' meant.


* In South America they didn't know what 'please' meant.


* And in the USA they didn't know what 'the rest of the world' meant.

Kembali


Dear Deary,

Kangen juga ninggalin begitu lama. Kadang pengen untuk ngisi, tapi mungkin belum dapat moodnya aja.

Banyak hal yang terjadi, banyak hal yang patut disyukuri. dalam sulit selalu ada kemudahan. dalam gelap selalu ada terang. Puji Syukur selalu.

Kadang banyak hal yang seperti yang diharapkan, namun terkadang juga tidak terwujud. Yang pasti aku tetap yakin, bahwa Tuhan selalu menjawab setiap permohonan, meski terkadang dengan jawaban 'tidak'.

Begitu banyak perjalanan, begitu panjang jalan ditempuh. Semua semakin memberikan pengertian akan makna tujuan, materil kah, atau spiritual kah? seringkali memang kekecewaan lah yang dituai, ketika tujuan materiil yang diharap-harap tidak tercapai. Aku semakin mengerti, bahwa tak ada yang abadi. semakin lama satu persatu yang dekat menjauh, namun tak kurang pula yang mendekat. satu hilang, esa terbilang. Untungnya, tujuan spiritualku selalu mengingatkan, akan sebait syair sebuah Nasyid,
Dunia Ibarat Air Laut
Diminum hanya menambah haus

Karenanya, memang fitrah dunia memang demikian, baiknya aku tidak letakkan di hati, aku pilih letakkan di tangan, agar mudah dibagi-bagi.

Sekali lagi aku tidak boleh berpuas pada tujuan materiil. Jika ia tidak tercapai, atau diminta kembali, atau mungkin dirampas, ikhlaskan. Yang penting, tuntaskan saja bakti dengan benar dan apa adanya. Aku hanya patut membicarakan hak dalam bakti yang ingin kutunaikan, lebih tidak.

Semakin hari juga kian terasa begitu banyak kenyamanan yang berlalu dengan senyap. Mungkin sudah waktunya mencari tantangan baru, suasana baru, sejauh tidak menjauh dari nilai dan cita-cita pribadiku.

Inilah sapaanku. Tanda bahwa aku kembali menjumpai diary ku.

Jakarta, 1 Mei 2007

Wednesday, May 31, 2006

Inikah namanya...


mana yang sejati..?
mana yang tulus..?
mana yang pura-pura..?
mana yang licik..?

Semua samar..
seakan-akan serupa..
seolah-olah biasa saja..

Siapa lagi yang musti dipercaya..?
ketika semua hubungan saling memperdaya..?
ketika semua yang tampak semu sahaja..?

ketika kesempatan sedikit ada
kuasa dijalankan semena-mena

ketika kuasa diraih
semua bekerja dibawah perintah

akhirnya,
bukan kita yang menentukan sendiri jalan kehidupan kita
bukan kita yang melihat, merasa dan menikmati kehidupan pribadi kita..

tapi kuasa-kuasa yang bertebaran
jalan kehidupan kita menjadi miliknya, atas dalih apapun, bahkan yang sentimentil
mata kita ditutup, diganti mata dan penglihatan mereka
yang menunjukkan kegemerlapan baru..
di luar kita,
yang bukan kita,
untuk mereka..

selamanya.....

Tuesday, April 11, 2006

What you decided for your next life..?


Hidup adalah memilih....
its not given, even its look like that..
You decided what you wanna be..
even your work resulted nothing
or you got something from your work,
that because of you...

decide what you wanna be...

Weaak....!!!!

Thursday, March 30, 2006

Kamis yang bingung..


Kok bisa yah libur ampe empat hari..?
Oke Deh buat hari ini, kita menghormati perayaan nyepi..
tapi Jumat-sabtu-minggu..?
gw gak abis pikir..
kok mau-maunya semua orang Indonesia terjebak pada kemalasan massal.
ini kan sama aja mendesain kemalasan secara sengaja..
dasar...

Wednesday, March 29, 2006

Perkenalanku..

Hi, my name is Mufti Makaarim Al-Akhlaq, I was Secretary General of Federation of Kontras, (the Commission for "the Disappear" and Victims of Violence), based in Jakarta, Indonesia for period of 2004-2007. Kontras has done advocacy work for victims of violence, specifically on human rights abuses since 1998. In addition to his work with Kontras, I also a member of Center for Religious Discourse (CerdiC), one Focus Group on dissemination of moderate religious discourse in Indonesia.

I was a coordinator for the Youth Forum on Inter-Religious Dialog since 2002-2005, focusing on promoting pluralism and fighting against religious intolerance. In 1999, I have also been a member of the Working Committee of Lakpesdam Nahdatul Ulama (Indonesia’s largest Islamic organization) Greater Jakarta, and has been a volunteer for the education and research division of the Indonesian Commission for Reconciliation and Peace.

I have written several books and articles on topics such as the Indonesian military and police, human rights violations in Indonesia, Islam and modernity, the relationship between religion and state, and political rights in Islam.

Now, I became Executive Director of IDSPS (the Institute for Defense, Security and Peace Studies) in Jakarta.